Memaknai Sebuah Kepercayaan

Kali ini kita akan sedikit membahas tentang kepercayaan, karena apa? pada saat ini kita  semua (seharusnya) sedang diberikan sebuah kepercayaan. Kepercayaan untuk hidup lebih berguna bagi semesta alam, kepercayaan untuk senantiasa taat kepada Sang Tuhan raja bagi langit dan bumi. Akan tetapi, lebih baik kita memikirkan terlebih dahulu apasih yang dimaksud dengan kepercayaan. Karena setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pemaknaan dari satu kata ini. Secara arti kita semua pasti memiliki jawaban yang sama. Right? :) “Kepercayaan? Hahaha basi kali. Udah berapa kali gue dikhianatin sama yang namanya KEPERCAYAAN.” Ungkapan seseorang yang terlalu sering dikhianati terhadap kepercayaan. Memang rumit ketika kita dihadapkan terhadap sebuah kepercayaan. Disatu sisi, naluri manusia pasti gak mau menghancurkan sebuah kepercayaan yang telah diberikan sehingga memberikan dampak yang buruk bagi si pemberi kepercayaan. Namun apa boleh buat ketika kita sedang tidak dalam kondisi sebagai manusia, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Justru berlawanan dengan naluri manusia yang sebenarnya, dengan kata lain bernaluri hewan. Karena pada dasarnya hewan tidak memikirkan apa yang mereka perbuat, hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan sebuah kepuasan semata. Sehingga bisa saja mengorbankan kepecercayaan yang ada demi memperoleh kepuasaan yang belum tentu adanya. (Mohon maaf sebelumnya terhadap persepsi tersebut, bukan dengan sepenuh hati bermaksud menghina makhluk ciptaan Tuhan) #KeepCalm dan #PositiveThinking #Oke

Pembukaan yang sangat membingunkan. Mari kita membahas arti kepercayaan dengan tema yang lainnya. Apasih tindakan pertama yang kalian lakukan ketika diberikan sebuah kepercayaan untuk mengambil alih sebuah perusahaan yang mana perusahaan tersebut sedang dalam kondisi yang bisa dikatakan hampir failed? Atau mungkin kalian diberikan sebuah kepercayaan untuk memegang sebuah kunci dimana dibalik pintu tersebut terdapat seekor binatang yang sedang kelaparan namun tidak diperbolehkan untuk memberikan sedikitpun makanan kepada bintang tersebut. Yap, tentu saja dalam kasus ini sifat kebijaksanaan kita akan diuji, begitupula dengan sifat keberanian kita. Karena kebijaksanaan itu tidak akan terwujud sebelum kita memiliki keberanian untuk melawan jiwa keegoisan yang ada pada diri kita. Sejatinya bijaksana itu muncul ketika kita sudah memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi terhadap keputusan yang kita keluarkan.

Sifat ngaji rasa lah yang akan memberikan arti kebijaksanaan yang sebenarnya. Dan apasih ngaji rasa? Ngaji rasa itu bisa bermakna dimana kita harus dapat memposisikan diri pada berbagai objek yang akan merasakan dampak dari keputusan yang kita berikan. Kalau mengacu pada kasus yang sebelumnya. Tapi arti dari ngaji rasa menurut susunan kata merupakan gabungan dari dua kata yaitu ngaji dan rasa. “Ngaji” berasal dari kata kaji yang artinya belajar, mempelajari atau mengkaji sedangkan kata “rasa” adalah tanggapan yang dialami indra atau yang dialami hati. Kata ngaji dari istilah “ngaji rasa” lebih dekat pada kata “mengkaji”. Mengkaji menurut KBBI adalah bentuk kata kerja artinya belajar; mempelajari; memeriksa; menyelidiki; memikirkan; mempertimbangkan; menguji; menelaah. Ngaji rasa adalah mengkaji sesuatu yang menjadi tanggapan indrawi maupun tanggapan hati. Sebab hidup manusia diberkahi dengan akal dan hati, maka akal yang mengusahakan untuk mengaji dan hati yang mengusahakan untuk merasa. Akal dan hati tidak bisa dipisahkan karena saling berhubungan, juga keduanya adalah modal utama untuk ngaji rasa. Rasa sebagai objek untuk dikaji tidak hanya sebatas perasaan yang kita rasa, namun juga rasa sebagai pengertian respon indrawi yang mencakup rasa sakit, pahit, geli, gatal, ngilu dan sebagainya. Walaupun fungsi hati sendiri secara ilmu kedokteran tidak ada hubungannya sama sekali terhadap proses kejiwaan yang mempengaruhi pola pikir.

Langsung pada kesimpulan saja deh. Pada kondisi kehidupan bermasyarakat yang memang sudah sangat beragam ini, kita dituntut untuk selalu ikhlas dalam mengahadapi berbagai permasalahan. Ikhlas untuk mengalah demi kebaikan, dan ikhlas untuk menerima kepercayaan yang telah diberikan. Sehingga kita sama sekali tidak akan terbebani terhadap kepercayaan yang ada dan kita mampu berfikir positif yang akan berdampak baik pada setiap perbuatan yang akan kita perbuat. Tamat.

Tulisan : Saya Kembali !

Kembali lagi, sudah sekian lama tong tara tulis-tulis e. Baru tarada kabar juga toh? Tapi saya kabar baik baru :). Ada yang kangen sama gue gak nih? *ada kan ada? Haha. Just kidding saudara-saudara :D. Mungkin sebagai pembuka gue mau mencoba sedikit membahas tentang apasaih “KANGEN”. Kenapa kok bahas itu, karena memang sekarang saya (GUE udah berubah menjadi SAYA) lagi kangen sama se.. se.. suatu, bukan seseorang :p. Tapi kangen juga sih sama seseorang, hehe. Langsung kepada apasih itu kangen, gimana solusinya ketika kita lagi kangen entah sama sesorang atau sesuatu  yang emang gak bisa dilupain.

Sebenernya nih ya, menurut anailsa yang telah gue lakuin (enakan pake gue ternyata ._. *gak konsis nih??) Kangen itu penyebabnya bukan karena si doi atau objek yang kita kangenin. Sehingga hal pertama yang kita lakuin ketika kangen sama seseorang yaitu membuang, membinasakan atau menyingkirkan barang kenang-kenangan. Ya gak?. Nah itu emang betul, dan juga gak salah, tapi menurut analisa gue nih ada lagi penyebabnya. Coba deh ikut berfikir, kangen itu pelakunya kita atau dia? Nah kita toh, jadi bisa disimpulkan awal mula rasa kangen itu tumbuh berawal dari diri kita sendiri. Kenapa disini gue nge-judge seolah-olah kita menyalahkan diri kita sendiri, ya memang karena setiap kejadian yang kita alami entah itu kangen, bahagia atau apalah itu berawal dari diri kita sendiri. Termasuk mau ngungkapin perasaan ke gebetan, kita kan yang punya semangat? Nah itu dia, jadi perasaan yang amat gak enak ketika kangen itu memang berawal dari diri kita, dan bisa dikatakan salah kita sendiri kalau kita ada perasaan kangen sama doi. Tapiiiii, apa iya kalau kita kangen ke seseorang itu salah? Atau bahkan gak boleh? Jawabannya, boleh-boleh saja tapi dalam konteks apa nih? Kalau kangennya seorang anak kepada Ibunya pasti boleh toh, tapi kalau kangen sama mantan boleh gak ya? Itu dia permasalahannya, mantan inikan bagaikan sendal yang gak sengaja jatuh ketika kita naik motor, tergantung kitanya ikhlas nggak melepaskan sendal itu. Karena yang namanya sendal ini kan barang yang emang dibutuhkan banget sama salah satu bagian tubuh kita toh, lepas dari sendal itu gak enak dan gak nyaman pastinya. Jadi tinggal ada dua kemungkinan nih, dan kita sendiri yang milih dari salah satunya. Ikhlas dan optimis nanti akan diganti yang lebih baik ATAU masih mau nyariin itu sendal yang hilang entah dimana lokasi jatuhnya. Kembali lagi pada diri kita sendiri, silahkan bermain perasaan wkwk.

Mungkin pembahasan tentang kangen sampai disini dulu yak, intinya ketika kita menghadapi suatu permasalahan upayakan lihat dari sisi positifnya dulu. Baru setelah bisa kita liat sisi positifnya, disitu tuh kekurangan dan kelemahan terlihat. Jadi tinggal kita selesaikan kekurangan dan kelemahan yang ada. Karena kalau kita melihat suatu permasalahan berawal dari sisi permasalahan terberatnya, gue yakin pasti pemikiran negatif yang muncul. Dan terkesan berat untuk nanganinya, karena memang musuh dari suatu permasalahan itu adalah malas. Malas untuk thinking out of box, malas berpikir jauh keluar dari permasalahan. Sehinggaaa kita melihat permasalahan cuman dari satu sisi, untuk kalau kita lihat dari sisi positifnya, kalau negatif bagaimana? Jadi sekian sampai disini, mohon maaf jika ada kesalahan dalam berucap kata dan menganalisa. :)

Perkenalan

Septian Pangestu, gue terlahir di suatu desa yang bisa dikatakan gak terlalu ndeso :) tapi juga gak terlalu modern seperti Jakarta (kenapa gue bandingin dengan Jakarta, karena gue tinggal di Jakarta terlalu lama (?) Nanti akan gue ceritain). Jam 11.00 p.m, tanggal 15, bulan September, tahun 1996 gue terlahir sebagai cowok (lah emang apaan?). Entah takdir atau gimana gue bisa lahir di kampung halaman, tapi dikondisi ini gue justru bangga. Gue bisa banggain desa kelahiran gue disaat nanti gue sukses, minimal ketika nanti ada rumah produksi yang mau membuat, yaa film lah tentang perjalan hidup gue (bermimpi boleh toh?) :). Beberapa bulan setelah gue terlahir, akhirnya gue pindah ke Jakarta, karena bokap gue kerja di sebuah maskapai penerbangan milik bumn. Ketika tahun dimana kerusuhan penggulingan kekuasan Presiden Soeharto, tepatnya saat krisis moneter. Bokap gue di phk dan terpaksa harus pulang ke kampung halaman. Dan disaat itulah petualangan hidup gue dan keluarga gue dimulai.

Aan, nama panggilan gue waktu kecil, sebenernya sampe sekarang juga sih. Gue juga gak tau siapa yang buat nama panggilan itu. Tapi menurut apa yang telah gue pikirkan selama bertahun-tahun, nama panggilan itu berasal dari akhiran nama awal gue, an. Dan sedikit diberi tambahan huruf vocal “A” akhirnya jadilah nama “Aan”.

Semenjak bokap gue di phk, keluarga menetapkan untuk tinggal di kampung halaman. Kampung halaman gue terletak di daerah Jawa Timur, tepatnya desa Truneng, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan. Dan tau gak arti “Sukomoro”? kalau dalam bahasa Jawa, arti “Moro” itu datang atau berkunjung. Dan arti “Suko” kalo menurut penafsiran gue, berarti “Suka”, jadai kalau digabung “suka berkunjung”, atau lebih jelasnya suatu tempat yang suka dikunjungi (jangan dianggap serius yak, hanya penafsiran dari gue, belum tentu benar :D). Septian saat kecil, gak beda jauh sama Septian yang sekarang, bedanya dulu waktu kecil imut kalau sekarang lebih cakep (Masa sih? Wkwk). Ketika menginjak umur 5 tahun, karena melihat temen-temen gue dirumah udah mulai sekolah. Disaat itulah gue minta ke ortu untuk masukin gue sekolah. Disini ada yang sedikit aneh, apa yang aneh? Di kampung gue yang disana, rata-rata umur yang mulai bersekolah sekitar 6 tahun. Sedangkan gue baru berumur 5 tahun, tapi apalah daya gue tetep mau sekolah. Karena gue saat itu paling penasaran seperti apa sih sekolah? Akhirnya gue udah masuk sekolah, sekolah pertama yang gue injak selama sejarah hidup gue yaitu TK Pertiwi. Inget gak dulu kalau TK itu ada O besar dan O Kecil? Nah, dulu keluarga gue berencana untuk sekolahin gue di TK dua tahun, tapi Tuhan berkehendak lain. Nilai gue diatas rata-rata, jadi cuman 1 tahun gue di TK.

Keluarga besar, sampai sekarang gue masih belum bisa ngelupain jasa-jasa mereka. Disitulah gue mulai diajarkan arti kehidupan, bagaimana caranya menghargai sebuah kehidupan. Jangan pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan yang pernah ada walaupun sekecil apapun. Termasuk ketika saat-saat kalian bisa berkumpul dengan mereka. Mata pencaharian di kampung gue rata-rata petani, termasuk keluarga gue juga petani. Dulu gue sering ke sawah, disitulah gue diajarkan apa itu yang disebut alam, kehidupan berbagai makhluk hidup, dan bagaimana cara bertahan hidup. Mungkin kalau gue terlahir di suatu kota yang sudah modern, termasuk Jakarta. Mahal untuk mendapatkan kesempatan secara gratis seperti apa yang telah gue dapatkan di kampung halaman gue. Hidup di sebuah desa itu gak semudah yang dibayangkan. Gak banyak transportasi umum, gue harus jalan kaki sejauh 3 km ditemani terik matahari. Tapi dengan kondisi seperti itulah yang akan membuat kalian memahami arti perjuangan. Sambil jalan, biasanya gue sama temen-temen saling tukar cerita. Biasanya sih nyeritain film atau acara tv yang waktu itu emang lagi populer.

Dulu ketika SD, gue bisa dikatakan anak yamg rajin. Hampir setiap hari gue belajar kelompok walaupun gak disuruh. Karena apa? Kalian tau lah, temen belajar gue itu cewek *hehe. Tapi bukan karena itu juga, gue itu paling suka kalau kumpul bareng temen. Saat-saat yang selalu gue tunggu ketika di SD, pembagian rapor. Gue selalu nunggu saat-saat itu. Selalu berharap dapet rangking 1, alhasil gue sering rangking 3 kadang 2. Jujur selama gue sekolah minimal masuk 3 besar, dan pesaing gue yang sering dapet peringkat 1 ataupun 2, mereka temen deket gue semua. Gue sering main kerumah mereka. Padahal setiap main kerumah mereka, yang dibahas bukan pelajaran atau PR. Lebih sering ngobrolin hal-hal diluar sekolah.